Kamis, 06 Desember 2012

ETIKA DALAM AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN

1.Tanggung jawab akuntan Keuangan dan Akuntan Manejemen Etika dalam akuntansi keuangan dan manajemen merupakan suatu bidang keuangan yang merupakan sebuah bidang yang luas dan dinamis. Bidang ini berpengaruh langsung terhadap kehidupan setiap orang dan organisasi. Ada banyak bidang yang dapat di pelajari, tetapi sejumlah besar peluang karir tersedia di bidang keuangan. Manajemen keuangan dengan demikian merupakan suatu bidang keuangan yang menerapkan prinsip-prinsip keuangan dalam sebuah organisasi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai melalui pengambilan putusan dan manajemen sumber daya yang tepat Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor,pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi di mana aktiva adalah harta yang dimiliki suatu perusahaan digunakan untuk operasi perusahaan dalam upaya untuk menghasilkan pendapatan. Sedangkan modal yaitu selisih antara aktiva dikurang hutang. Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham. Hal penting dari akuntansi keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan- aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. Akuntansi manajemen adalah disiplin ilmu yang berkenaan dengan penggunaan informasi akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk keperluan penghitungan biaya produk, perencanaan, pengendalian dan evaluasi, serta pengambilan keputusan. Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management Accountant, yaitu Penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset. Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk merumuskan strategi, proses perencanaan dan pengendalian, pengambilan keputusan, optimalisasi keputusan, pengungkapan pemegang saham dan pihak luar, pengungkapan entitas organisasi bagi karyawan, dan perlindungan atas aset organisasi. Akuntansi Manajemen (Managerial Accounting) berhubungan dengan pengidentifikasian dan pemilihan yang terbaik dari beberapa alternatif kebijakan atau tindakan dengan menggunakan data historis atau taksiran untuk membantu pimpinan. Persamaan akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen prinsip akuntansi yang diterima baik dalam akuntansi dalam akuntansi keuangan kemungkinan besar juga merupakan prisnsip pengukuran yang Releven dalam akuntansi manajemen dan menggunakan sistem informasi operasi yang sama sebagai bahan baku untuk menghasilkan informasi yang disajikan kepada pemakainya. 2.Competence, Confidentiality, Integrity and Objectivity of Management Accountant Kriteria Standar Perilaku Akuntan Manajemen: Competence (Kompetensi) Auditor harus menjaga kemampuan dan pengetahuan profesional mereka pada tingkatan yang cukup tinggi dan tekun dalam mengaplikasikannya ketika memberikan jasanya, diantaranya menjaga tingkat kompetensi profesional, melaksanakan tugas profesional yang sesuai dengan hukum dan menyediakan laporan yang lengkap dan transparan Confidentiality (Kerahasiaan) Auditor harus dapat menghormati dan menghargai kerahasiaan informasi yang diperoleh dari pekerjaan dan hubungan profesionalnya, diantaranya meliputi menahan diri supaya tidak menyingkap informasi rahasia, menginformasikan pada bawahan (subordinat) dengan memperhatikan kerahasiaan informasi, menahan diri dari penggunaan informasi rahasia yang diperoleh. Integrity (Kejujuran) Auditor harus jujur dan bersikap adil serta dapat dipercaya dalam hubungan profesionalnya. Meliputi menghindari konflik kepentingan yang tersirat maupun tersurat, menahan diri dari aktivitas yang akan menghambat kemampuan, menolak hadiah, bantuan, atau keramahan yang akan mempengaruhi segala macam tindakan dalam pekerjaan, mengetahui dan mengkomunikasikan batas-batas profesionalitas, mengkomunikasikan informasi yang baik maupun tidak baik, menghindarkan diri dalam keikutsertaan atau membantu kegiatan yang akan mencemarkan nama baik profesi. Objectivity of Management Accountant (Objektivitas Akuntan Manajemen) Auditor tidak boleh berkompromi mengenai penilaian profesionalnya karenadisebabkan prasangka, konflik kepentingan dan terpengaruh orang lain, seperti memberitahukan informasi dengan wajar dan objektif dan mengungkapkan sepenuhnya informasi relevan. 3.Whistle Blowing Merupakan Tindakan yang dilakukan seorang atau beberapa karyawan untuk membocorkan kecurangan perusahaan kepada pihak lain. Motivasi utamanya adalah moral. Whistle blowing sering disamakan begitu saja dengan membuka rahasia perusahaan. Contohnya seorang karyawan melaporkan kecurangan perusahaan yang membuang limbah pabrik ke sungai. Whistle blowing dibagi menjadi dua yaitu : · Whistle Blowing internal, yaitu kecurangan dilaporkan kepada pimpinan perusahaan tertinggi, pemimpin yang diberi tahu harus bersikap netral dan bijak, loyalitas moral bukan tertuju pada orang, lembaga, otoritas, kedudukan, melainkan pada nilai moral: keadilan, ketulusan, kejujuran, dan dengan demikian bukan karyawan yang harus selalu loyal dan setia pada pemimpin melainkan sejauh mana pimpinan atau perusahaan bertindak sesuai moral · Whistle Blowing eksternal, yaitu membocorkan kecurangan perusahaan kepada pihak luar seperti masyarakat karena kecurangan itu merugikan masyarakat, motivasi utamanya adalah mencegah kerugian bagi banyak orang, yang perlu diperhatikan adalah langkah yang tepat sebelum membocorkan kecurangan terebut ke masyarakat, untuk membangun iklim bisnis yang baik dan etis memang dibutuhkan perangkat legal yang adil dan baik 4.Creative Accounting Creative Accounting adalah semua proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999). Pihak-pihak yang terlibat di dalam proses creative accounting, seperti manajer, akuntan (sepengetahuan saya jarang sekali ditemukan kasus yang melibatkan akuntan dalam proses creative accounting karena profesi ini terikat dengan aturan-aturan profesi), pemerintah, asosiasi industri, dll. Creative accounting melibatkan begitu banyak manipulasi, penipuan, penyajian laporan keuangan yang tidak benar, seperti permainan pembukuan (memilih penggunaan metode alokasi, mempercepat atan menunda pengakuan atas suatu transasksi dalam suatu periode ke periode yang lain). 5.Fraud Accounting Fraud sebagai suatu tindak kesengajaan untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara tidak wajar dan salah menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini termasuk berbohong, menipu, menggelapkan dan mencuri. Yang dimaksud dengan penggelapan disini adalah merubah asset/kekayaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya secara tidak wajar untuk kepentingan dirinya. 6.Fraud Auditing Karakteristik kecurangan Dilihat dari pelaku fraud auditing maka secara garis besar kecurangan bisa dikelompokkan menjadi 2 jenis : · Oleh pihak perusahaan, yaitu manajemen untuk kepentingan perusahaan (di mana salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting, untuk menghindari hal tersebut ada baiknya karyawan mengikuti auditing workshop dan fraud workshop) dan pegawai untuk keuntungan individu (salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva) · Oleh pihak di luar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha, dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Kecurangan pelaporan keuangan biasanya dilakukan karena dorongan dan ekspektasi terhadap prestasi pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang merupakan sumber penyajian kerja manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan terhadap pelaporan keuangan lebih dikenal dengan istilah irregularities (ketidakberesan). Bentuk kecurangan seperti ini seringkali dinamakan kecurangan manajemen (management fraud), misalnya berupa manipulasi, pemalsuan, atau laporan keuangan. Kesengajaan dalam salah menyajikan atau sengaja menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi, kejadian, atau informasi penting dari laporan keuangan, untuk itu sebaiknya anda mengikuti auditing workshop dan fraud workshop. Salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva kecurangan jenis ini biasanya disebut kecurangan karyawan (employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan aktiva meliputi penggelapan aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum(ada baiknya karyawan mengikuti seminar fraud dan seminar auditing). Penggelapan aktiva umumnya dilakukan oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan karena melihat adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan serta pembenaran terhadap tindakan tersebut. Contoh salah saji jenis ini adalah penggelapan terhadap penerimaan kas, pencurian aktiva perusahaan, mark-up harga dan transaksi tidak resmi. Contoh Kasus : Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO). Penelitian COSO menelaah hampir 350 kasus dugaan kecurangan pelaporan keuangan oleh perusahaan-perusahaan publik di Amerika Serikat yang diselidiki oleh SEC. Diantaranya adalah : 1. Kecurangan keuangan memengaruhi perusahaan dari semua ukuran, dengan median perusahaan memiliki aktiva dan pendapatan hanya di bawah $100juta. 2 Berita mengenai investigasi SEC atau Departemen Kehakiman mengakibatkan penurunan tidak normal harga saham rata-rata 7,3 persen. 3. Dua puluh enam persen dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam kecurangan mengganti auditor selama periode yang diteliti dibandingkan dengan hanya 12 persen dari perusahaan-perusahaan yang tidak terlibat. Sumber: http://lovelycimutz.wordpress.com

ETIKA DALAM KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Aturan Etika dalam Kantor Akuntan Publik (KAP) yakni Independensi, Integritas, dan Obyektivitas, Standar umum dan prinsip akuntansi, Tanggung jawab kepada klien, Tanggung jawab kepada rekan seprofesi, Tanggung jawab dan praktik lain, sangatlah penting untuk dipahami dan ditaati oleh setiap anggota KAP agar dapat menjadi seorang akuntan publik yang profesional. Dan Seorang akuntan publik juga memiliki tanggung jawab lain yang harus dilakukan selain tanggung jawabnya kepada Klien, rekan seprofesi, dan tanggung jawab lainnya yakni tanggung jawab sosial yang berupa pemberian pelayanan yang baik kepada publik dan memperhatikan rekan seprofesi dengan tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri. Ada lima aturan etika yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP). Lima aturan etika itu adalah: 1. Independensi, integritas, dan obyektivitas 2. Standar umum dan prinsip akuntansi 3. Tanggung jawab kepada klien 4. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi 5. Tanggung jawab dan praktik lain TANGGUNG JAWAB SOSIAL KAP SEBAGAI ENTITAS BISNIS Tanggung jawab sosial kantor akuntan publik meliputi ciri utama dari profesi akuntan publik terutama sikap altruisme, yaitu mengutamakan kepentingan publik dan juga memperhatikan sesama akuntan publik dibanding mengejar laba. KRISIS DALAM PROFESI AKUNTANSI Profesi akuntansi yang krisis bahayanya adalah apabila tiap-tiap auditor atau attestor bertindak di jalan yang salah, opini dan audit akan bersifat tidak berharga. Suatu penggunaan untuk akuntan akan mengenakkan pajak preparers dan wartawan keuangan tetapi fungsi audit yang menjadi jantungnya akuntansi akan memotong keluar dari praktek untuk menyumbangkan hampir sia-sia penyalahgunaannya. Perusahaan melakukan pengawasan terhadap auditor-auditor yang sedang bekerja untuk melaksanakan pengawasan intern, keuangan, administratif, penjualan, pengolahan data, dan fungsi pemasaran diantara orang banyak. Akuntan publik merupakan suatu wadah yang dapat menilai apakah laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi ataupun audit. Perbedaan akuntan publik dengan perusahaan jasa lainnya yaitu jasa yang diberikan oleh KAP akan digunakan sebagai alat untuk membuat keputusan. Kewajiban dari KAP yaitu jasa yang diberikan dipakai untuk make decision atau memiliki tanggung jawab sosial atas kegiatan usahanya. Bagi akuntan berperilaku etis akan berpengaruh terhadap citra KAP dan membangun kepercayaan masyarakat serta akan memperlakukan klien dengan baik dan jujur, maka tidak hanya meningkatkan pendapatannya tetapi juga memberi pengaruh positif bagi karyawan KAP. Perilaku etis ini akan memberi manfaat yang lebih bagi manager KAP dibanding bagi karyawan KAP yang lain. Kesenjangan yang terjadi adalah selain melakukan audit juga melakukan konsultan, membuat laporan keuangan, menyiapkan laporan pajak. Oleh karena itu terdapat kesenjangan diatara profesi akuntansi dan keharusan profesi akuntansinya. REGULASI DALAM RANGKA PENEGAKAN ETIKA KANTOR AKUNTAN PUBLIK Setiap orang yang melakukan tindakan yang tidak etis maka perlu adanya penanganan terhadap tindakan tidak etis tersebut. Tetapi jika pelanggaran serupa banyak dilakukan oleh anggota masyarakat atau anggota profesi maka hal tersebut perlu dipertanyakan apakah aturan-aturan yang berlaku masih perlu tetap dipertahankan atau dipertimbangkan untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan lingkungan. Secara umum kode etik berlaku untuk profesi akuntan secara keselurahan kalau melihat kode etik akuntan Indonesia isinya sebagian besar menyangkut profesi akuntan publik. Padahal IAI mempunyai kompartemen akuntan pendidik, kompartemen akuntan manajemen disamping kompartemen akuntan publik. Perlu dipikir kode etik yang menyangkut akuntan manajemen, akuntan pendidik, akuntan negara (BPKP, BPK, pajak).

Rabu, 21 November 2012

ETIKA DALAM AUDITING

1.Kepercayaan Publik Etika dalam auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen. Profesi akuntan memegang peranan yang penting dimasyarakat, sehingga menimbulkan ketergantungan dalam hal tanggung-jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan Publik merupakan kepentingan masyarkat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara. 2.Tanggung Jawab Auditor kepada Publik Profesi akuntan di dalam masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib dengan menilai kewajaran dari laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Ketergantungan antara akuntan dengan publik menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Dalam kode etik diungkapkan, akuntan tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap klien yang membayarnya saja, akan tetapi memiliki tanggung jawab juga terhadap publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani secara keseluruhan. Publik akan mengharapkan akuntan untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan integritas, obyektifitas, keseksamaan profesionalisme, dan kepentingan untuk melayani publik. Para akuntan diharapkan memberikan jasa yang berkualitas, mengenakan jasa imbalan yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa dengan tingkat profesionalisme yang tinggi. Atas kepercayaan publik yang diberikan inilah seorang akuntan harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasinya untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Justice Buger mengungkapkan bahwa akuntan publik yang independen dalam memberikan laporan penilaian mengenai laporan keuangan perusahaan memandang bahwa tanggung jawab kepada publik itu melampaui hubungan antara auditor dengan kliennya. Ketika auditor menerima penugasan audit terhadap sebuah perusahaan, hal ini membuat konsequensi terhadap auditor untuk bertanggung jawab kepada publik. Penugasan untuk melaporkan kepada publik mengenai kewajaran dalam gambaran laporan keuangan dan pengoperasian perusahaan untuk waktu tertentu memberikan ”fiduciary responsibility” kepada auditor untuk melindungi kepentingan publik dan sikap independen dari klien yang digunakan sebagai dasar dalam menjaga kepercayaan dari publik. 3.Tanggung Jawab Dasar Auditor The Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal dari Auditing Practices Board, ditahun 1980, memberikan ringkasan (summary) tanggung jawab auditor: Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjannya. Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan. Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk memberikan kesimpulan rasional. Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu dan melakukan compliance test. Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor melaksanakan tinjau ulang laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan keuangan. 4. Independensi Auditor Independensi adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain (Mulyadi dan Puradireja, 2002: 26). Dalam SPAP (IAI, 2001: 220.1) auditor diharuskan bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan di dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Terdapat tiga aspek independensi seorang auditor, yaitu sebagai berikut. (1) Independence in fact (independensi dalam fakta). Artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas. (2) Independence in appearance (independensi dalam penampilan). Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. (3) Independence in competence (independensi dari sudut keahliannya). Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor. 5. Peraturan Pasar Modal dan Regulator mengenai Independensi Akuntan Publik Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat. Baik dalam hal auditor menyatakan pendapat maupun menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia mengharuskan auditor menyatakan apakah, menurut pendapatnya, laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan jika ada, menunjukkan adanya ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. Sumber : http://enomutzz.wordpress.com/2012/01/27/etika-dalam-auditing/

KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI

1. Kode Perilaku Profesional Perilaku etika merupakan fondasi peradaban modern menggarisbawahi keberhasilan berfungsinya hampir setiap aspek masyarakat, dari kehidupan keluarga sehari-hari sampai hukum, kedokteran,dan bisnis. Etika (ethic) mengacu pada suatu sistem atau kode perilaku berdasarkan kewajiban moral yang menunjukkan bagaimana seorang individu harus berperilaku dalam masyarakat. Perilaku etika juga merupakan fondasi profesionalisme modern. Profesionalisme didefinisikan secara luas, mengacu pada perilaku, tujuan, atau kualitas yang membentuk karakter atau member ciri suatu profesi atau orang-orang profesional. Seluruh profesi menyusun aturan atau kode perilakuyang mendefinisikan perilaku etika bagi anggota profesi tersebut. S. M. Mintz telah mengusulkan bahwa terdapat tiga metode atau teori perilaku etika yang dapat menjadi pedoman analisis isu-isu etika dalam akuntansi. Teori ini antara lain (1) paham manfaat atau utilitarianisme. (2) pendekatan berbasis hak (rights based approach),dan (3) pendeketan berbasis keadilan (justice based approach). Teori utilitarian mengakui bahwa pengambilan keputusan mencakup pilihan antara manfaat dan beban dari tindakan-tindakan alternatif, dan menfokuskan pada konsekuensi tindakan pada individu yang terpengaruh. Teori hak mengasumsikan bahwa individu memiliki hak tertentu dan individu lainnya memiliki kewajiban untuk menghormati hak tersebut. Teori keadilan berhubungan dengan isu seperti ekuitas, kewajaran,dan keadilan. Teori keadilan mencakup dua prinsip dasar. Prinsip pertama menganggap bahwa setiap orang memiliki hak untuk memiliki kebebasan pribadi tingkat maksimum yang masih sesuai dengan kebebasan orang lain. Prinsip kedua menyatakan bahwa tindakan sosial dan ekonomi harus dilakukan untuk memberikan manfaat bagi setiap orang dan tersedia bagi semuanya 2. Prinsip-prinsip Etika : IFAC, AICPA,IAI KODE PERILAKU PROFESIONAL AICPA: Kode Perilaku Profesional AICPA terdiri atas dua bagian: Prinsip-prinsip Perilaku Profesional (Principles of Profesionnal Conduct); menyatakan tindak-tanduk dan perilaku ideal. Aturan Perilaku (Rules of Conduct); menentukan standar minimum. Prinsip-prinsip Perilaku Profesional menyediakan kerangka kerja untuk Aturan Perilaku. Pedoman tambahan untuk penerapan Aturan Perilaku tersedia melalui: Interpretasi Aturan Perilaku (Interpretations of Rules of Conduct) Putusan (Rulings) oleh Professional Ethics Executive Committee. Enam Prinsip-prinsip Perilaku Profesional: Tanggung jawab: Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, anggota harus melaksanakan pertimbangan profesional dan moral dalam seluruh keluarga. Kepentingan publik: Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dalam suatu cara yang akan melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme. Integritas: Untuk mempertahankan dan memperluas keyakinan publik, anggota harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesional dengan perasaan integritas tinggi. Objektivitas dan Independesi: Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik penugasan dalam pelaksanaan tanggung jawab profesional. Kecermatan dan keseksamaan: Anggota harus mengamati standar teknis dan standar etik profesi. Lingkup dan sifat jasa: Anggota dalam praktik publik harus mengamati Prinsip prinsip Perilaku Profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan. Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC : 1) Integritas. Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya. 2) Objektivitas. Seorag akuntan profesional seharusnya tidak boleh membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh orang lain sehinggamengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional. 3) Kompetensi profesional dan kehati-hatian. Seorang akuntan profesionalmempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjaminseorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yangdidasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini. Seorangakntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional haus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesionaldan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional. 4) Kerahasiaan. Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaaninformasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnisserta tidak boleh mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izinyng enar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya. 5) Perilaku Profesional. Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapatmendiskreditkan profesi. 3. Aturan dan Interpretasi Etika Aturan etika IAI-KASP memuat tujuh prinsip-prinsip dasar perilaku etis auditor dan empat panduan umum lainnya berkenaan dengan perilaku etis tersebut. Ketujuh prinsip dasar IAI tersebut adalah: Integritas. Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan profesional kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya. Obyektivitas. Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak lain. Obyektivitas ini dipraktikkan ketika auditor mengambil keputusan-keputusan dalam kegiatan auditnya. Auditor yang obyektif adalah auditor yang mengambil keputusan berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, dan bukannya karena pengaruh atau berdasarkan pendapat atau prasangka pribadi maupun tekanan dan pengaruh orang lain. Kompetensi dan Kehati-hatian. Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, danteknik-teknik yang terbaru. Berdasarkan prinsip dasar ini, auditor hanya dapat melakukan suatu audit apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan atau menggunakan bantuan tenaga ahli yang kompeten untuk melaksanakan tugas-tugasnya secara memuaskan. Kerahasiaan. Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial. Prinsip kerahasiaan tidak berlaku dalam situasi-situasi berikut: Pengungkapan yang diijinkan oleh pihak yang berwenang, seperti auditan dan instansi tempat ia bekerja. Dalam melakukan pengungkapan ini, auditor harus mempertimbangkan kepentingan seluruh pihak, tidak hanya dirinya, auditan, instansinya saja, tetapi juga termasuk pihak-pihak lain yang mungkin terkena dampak dari pengungkapan informasi ini. Ketepatan Bertindak. Auditor harus dapat bertindak konsisten dalam mempertahankan reputasi profesi serta lembaga profesi akuntan sektor publik dan menahan diri dari setiap tindakan yang dapat mendiskreditkan lembaga profesi atau dirinya sebagai auditor profesional. Tindakan-tindakan yang tepat ini perlu dipromosikan melalui kepemimpinan dan keteladanan. Apabila auditor mengetahui ada auditor lain melakukan tindakan yang tidak benar, maka auditor tersebut harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi masyarakat, profesi, lembaga profesi, instansi tempat ia bekerja dan anggota profesi lainnya dari tindakan-tindakan auditor lain yang tidak benar tersebut. Standar teknis dan professional. Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku, yang meliputi standar teknis dan profesional yang relevan. Standar ini ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia. Pada instansi-instansi audit publik, terdapat juga standar audit yang mereka tetapkan dan berlaku bagi para auditornya, termasuk aturan perilaku yang ditetapkan oleh instansi tempat ia bekerja. Dalam hal terdapat perbedaan dan/atau pertentangan antara standar audit dan aturan profesi dengan standar audit dan aturan instansi, maka permasalahannya dikembalikan kepada masing-masing lembaga penyusun standar dan aturan tersebut. Sumber : http://ariesta-riris.blogspot.com/2012/11/kode-etik-profesi-akuntansi.html

Selasa, 23 Oktober 2012

BAB IV Perilaku Etika dalam Profesi Akuntansi

1. Akuntansi sebagai Profesi dan Peran Akuntan Profesi akuntansi merupakan sebuah profesi yang menyediakan jasa atestasi maupun non- Atestasi kepada masyarakat dengan dibatasi kode etik yang ada. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Yang dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik. Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan sebagai akuntan publik yang lazimnya terdiri dari pekerjaan audit, akuntansi, pajak dan konsultan manajemen. Peran akuntan antara lain : 1. Akuntan Publik (Public Accountants) Akuntan publik atau juga dikenal dengan akuntan eksternal adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu. Mereka bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan. Yang termasuk dalam kategori akuntan publik adalah akuntan yang bekerja pada kantor akuntan publik (KAP) dan dalam prakteknya sebagai seorang akuntan publik dan mendirikan kantor akuntan, seseorang harus memperoleh izin dari Departemen Keuangan. Seorang akuntan publik dapat melakukan pemeriksaan (audit), misalnya terhadap jasa perpajakan, jasa konsultasi manajemen, dan jasa penyusunan system manajemen. 2. Akuntan Intern (Internal Accountant) Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan perusahaan atau akuntan manajemen. Jabatan tersebut yang dapat diduduki mulai dari Staf biasa sampai dengan Kepala Bagian Akuntansi atau Direktur Keuangan. tugas mereka adalah menyusun sistem akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern. 3. Akuntan Pemerintah (Government Accountants) Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK). 4. Akuntan Pendidik Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi. 2. Ekspektasi Publik Masyarakat pada umumnya mengatakan akuntan sebagai orang yang profesional khususnya di dalam bidang akuntansi. Karena mereka mempunyai suatu kepandaian yang lebih di dalam bidang tersebut dibandingkan dengan orang awam sehingga masyarakat berharap bahwa para akuntan dapat mematuhi standar dan sekaligus tata nilai yang berlaku dilingkungan profesi akuntan, sehingga masyarakat dapat mengandalkan kepercayaannya terhadap pekerjaan yang diberikan. Dalam hal ini, seorang akuntan dipekerjakan oleh sebuah organisasi atau KAP, tidak akan ada undang-undang atau kontrak tanggung jawab terhadap pemilik perusahaan atau publik.Walaupun demikian, sebagaimana tanggung jawabnya pada atasan, akuntan professional publik mengekspektasikannya untuk mempertahankan nilai-nilai kejujuran, integritas, objektivitas, serta pentingannya akan hak dan kewajiban dalam perusahaan 3. Nilai-nilai Etika vs Teknik Akuntansi/Auditing - Integritas: setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten. - Kerjasama: mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri maupun dalam tim - Inovasi: pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada pelanggan dan proses kerja dengan metode baru. - Simplisitas: pelaku profesi mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana. Teknik akuntansi adalah aturan-aturan khusus yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntan yang menerangkan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut. 4. Perilaku Etika dalam Pemberian Jasa Akuntan publik Dari profesi akuntan publik inilah Masyarakat kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas Tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan Keuangan oleh manajemen perusahaan. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi Masyarakat, yaitu: - Jasa assurance adalah jasa profesional independen Yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan. - Jasa Atestasi terdiri dari audit, pemeriksaan (examination), review, dan Prosedur yang disepakati (agreed upon procedure). - Jasa atestasi Adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang Independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai Dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan. - Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan public Yang di dalamnya ia tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan Negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan. Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Sumber: http://digilib.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-syahelmi.pdf

BAB III Ethical Governance

BAB III Ethical Governance 1. Governance System Governance System merupakan suatu tata kekuasaan yang terdapat di dalam perusahaan yang terdiri dari 4 (empat) unsur yang tidak dapat terpisahkan, yaitu : a. Commitment on Governance Commitment on Governance adalah komitmen untuk menjalankan perusahaan yang dalam hal ini adalah dalam bidang perbankan berdasarkan prinsip kehati-hatian berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Dasar peraturan yang berkaitan dengan hal ini adalah : • Undang Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. • Undang Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan jo Undang Undang No. 10 Tahun 1998. b. Governance Structure Governance Structure adalah struktur kekuasaan berikut persyaratan pejabat yang ada di bank sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh peraturan perundangan yang berlaku. Dasar peraturan yang berkaitan dengan hal ini adalah : Peraturan Bank Indonesia No. 1/6/PBI/1999 tanggal 20-09-1999 tentang Penugasan Direktur Kepatuhan dan Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank. • Peraturan Bank Indonesia No. 2/27/PBI/2000 tanggal 15-12-2000 tentang Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 5/25/PBI/2003 tanggal 10-11-2003 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). c.Governance Mechanism Governance Mechanism adalah pengaturan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab unit dan pejabat bank dalam menjalankan bisnis dan operasional perbankan. Dasar peraturan yang berkaitan dengan hal ini (antara lain) adalah : • Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19-05-2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 5/12/PBI/2003 tentang Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum bagi Bank. • Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12-04-2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 6/25/PBI/2004 tanggal 22-10-2004 tentang Rencana Bisnis Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20-01-2005 jo PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30-01-2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 7/3/PBI/2005 tanggal 20-01-2005 jo PBI No. 8/13/PBI/2006 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum. • Peraturan Bank Indonesia No. 7/37/PBI/2004 tanggal 17-07-2003 tentang Posisi Devisa Netto Bank Umum. d. Governance Outcomes Governance Outcomes adalah hasil dari pelaksanaan GCG baik dari aspek hasil kinerja maupun cara-cara/praktek-praktek yang digunakan untuk mencapai hasil kinerja tersebut. Dasar peraturan yang berkaitan dengan hal ini adalah : • Peraturan Bank Indonesia No. 3/22/PBI/2001 tanggal 13-12-2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank. 2. Budaya Etika Budaya Perusahaan adalah suatu sistem dari nilai-nilai yang dipegang bersama tentang apa yang penting serta keyakinan tentang bagaimana dunia itu berjalan. Terdapat tiga faktor yang menjelaskan perbedaan pengaruh budaya yang dominan terhadap perilaku, yaitu: • Keyakinan dan nilai-nilai bersama • Dimiliki bersama secara luas • Dapat diketahui dengan jelas, mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap perilaku Konsep etika bisnis tercermin pada corporate culture (budaya perusahaan). Menurut Kotler (1997) budaya perusahaan merupakan karakter suatu perusahaan yang mencakup pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma bersama yang dianut oleh jajaran perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari cara karyawannya berpakaian, berbicara, melayani tamu dan pengaturan kantor. 3. Mengembangkan struktur Etika Korporasi Membangun entitas korporasi dan menetapkan sasarannya. Pada saat itulah perlu prinsip-prinsip moral etika ke dalam kegiatan bisnis secara keseluruhan diterapkan, baik dalam entitas korporasi, menetapkan sasaran bisnis, membangun jaringan dengan para pihak yang berkepentingan (stakeholders) maupun dalam proses pengembangan diri para pelaku bisnis sendiri. Penerapan ini diharapkan etika dapat menjadi “hati nurani” dalam proses bisnis sehingga diperoleh suatu kegiatan bisnis yang beretika dan mempunyai hati, tidak hanya sekadar mencari untung belaka, tetapi juga peduli terhadap lingkungan hidup, masyarakat, dan para pihak yang berkepentingan (stakeholders). 4. Kode Perilaku Korporasi (Corporate Code of Conduct) Pengelolaan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, baik aturan hukum maupun aturan moral atau etika. Code of Conduct merupakan pedoman bagi seluruh pelaku bisnis PT. Perkebunan dalam bersikap dan berperilaku untuk melaksanakan tugas sehari-hari dalam berinteraksi dengan rekan sekerja, mitra usaha dan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan. Pembentukan citra yang baik terkait erat dengan perilaku perusahaan dalam berinteraksi atau berhubungan dengan para stakeholder. Perilaku perusahaan secara nyata tercermin pada perilaku pelaku bisnisnya. Dalam mengatur perilaku inilah, perusahaan perlu menyatakan secara tertulis nilai-nilai etika yang menjadi kebijakan dan standar perilaku yang diharapkan atau bahkan diwajibkan bagi setiap pelaku bisnisnya. Pernyataan dan pengkomunukasian nilai-nilai tersebut dituangkan dalam code of conduct. 5. Evaluasi terhadap Kode Perilaku Korporasi Melakukan evaluasi tahap awal (Diagnostic Assessment) dan penyusunan pedoman-pedoman. Pedoman Good Corporate Governance disusun dengan bimbingan dari Tim BPKP dan telah diresmikan pada tanggal 30 Mei 2005. Pengaruh etika terhadap budaya 1.Etika Personal dan etika bisnis merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dan keberadaannya saling melengkapi dalam mempengaruhi perilaku manajer yang terinternalisasi menjadi perilaku organisasi yang selanjutnya mempengaruhi budaya perusahaan. 2.Jika etika menjadi nilai dan keyakinan yang terinternalisasi dalam budaya perusahaan maka hal tersebut berpotensi menjadi dasar kekuatan persusahaan yang pada gilirannya berpotensi menjadi sarana peningkatan kerja Sumber: http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=106:tujuan-system-a-prinsip-gcg&catid=68:good-corporate-governance&Itemid=101

Sabtu, 06 Oktober 2012

BAB 2 PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS

1. Lingkungan bisnis yang mempengaruhi Perilaku Etika Lingkungan bisnis yang mempengaruhi etika adalah lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan makro yang dapat mempengaruhi kebiasaan yang tidak etis yaitu bribery, coercion, deception, theft, unfair dan discrimination. Maka dari itu dalam perspektif mikro, bisnis harus percaya bahwa dalam berhubungan dengan supplier atau vendor, pelanggan dan tenaga kerja atau karyawan.”Etika bisnis merupakan pola bisnis yang tidak hanya peduli pada profitabilitasnya saja, tapi juga memerhatikan kepentingan stakeholder-nya. Etika bisnis tidak bisa terlepas dari etika personal, keberadaan mereka merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dan keberadaannya saling melengkapi. Etika bisnis sesorang merupakan perpanjangan moda-moda tingkah lakunya atau tindakan-tindakan konstan, yang membentuk keseluruhan citra diri atau akhlak orang itu. Etika bisnis merupakan salah satu bagian dari prinsip etika yang diterapkan dalam dunia bisnis. Istilah etika bisnis mengandung pengertian bahwa etika bisnis merupakan sebuah rentang aplikasi etika yang khusus mempelajari tindakan yang diambil oleh bisnis dan pelaku bisnis” 2. Kesaling – Tergantungan Antara Bisnis dan Masyarakat Bisnis dalam bentuk lembaga didalam bahasa Indonesia dikenal Rumah Tangga Perusahaan (RTP). RTP selalu berhubungan dengan RTK (Rumah Tangga Konsumsi). Hubungan antara Rumah Tangga Perusahaan dengan Rumah Tangga Konsumsi erat sekali dan saling membantu satu sama lainnya dalam mencapai kemajuannya. RTK menyediakan dan RTP membutuhkan factor-faktor produksi berupa alam, tenaga kerja, modal dan skill. Kemudian RTP akan membayar harga faktor produksi ini berupa rente tanah, upah buruh, bunga modal dan laba pengusaha. Faktor-faktor produksi tadi di olah atau diproses dalam Rumah Tangga Perusahaan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa dan dijual ke Rumah Tangga Konsumsi. Rumah Tangga Konsumsi membayar barang dan jasa ini dengan tenaga belinya, ini disebut daya beli efektif (efective demand), artinya permintaan terhadap suatu barang yang diikuti dengan membayar harga barang tersebut. Adapula Potensil demand atau daya beli pontensil atau permintaan potensil yaitu permintaan yang baru merupakan keinginan saja belum diikuti dengan tindakan membeli karna belum cukup uang. Pada saat uangnya cukup dia baru membeli barang itu. Hubungan ini akan berjalan terus menerus, majunya RTP akan akan memberikan kepada RTK berupa kemakmuran RTK. RTP yang makin berkembang akan membutuhkan alam, tenaga kerja, modal dan skill yang makin meningkat pula 3.Kepedulian pelaku bisnis terhadap etika Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakin meluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas sampai ke daerah-daerah, dan meminjam istilah guru bangsa yakni Gus Dur, korupsi yang sebelumnya di bawah meja, sekarang sampai ke meja-mejanya dikorupsi adalah bentuk moral hazard di kalangan ekit politik dan elit birokrasi. Hal ini mengindikasikan bahwa di sebagian masyarakat kita telah terjadi krisis moral dengan menghalalkan segala mecam cara untuk mencapai tujuan, baik tujuan individu memperkaya diri sendiri maupun tujuan kelompok untuk eksistensi keberlanjutan kelompok. Terapi ini semua adalah pemahaman, implementasi dan investasi etika dan nilai-nilai moral bagi para pelaku bisnis dan para elit politik. Dalam kaitan dengan etika bisnis, terutama bisnis berbasis syariah, pemahaman para pelaku usaha terhadap ekonomi syariah selama ini masih cenderung pada sisi "emosional" saja dan terkadang mengkesampingkan konteks bisnis itu sendiri. Padahal segmen pasar dari ekonomi syariah cukup luas, baik itu untuk usaha perbankan maupun asuransi syariah. Dicontohkan, segmen pasar konvensional, meski tidak "mengenal" sistem syariah, namun potensinya cukup tinggi. Mengenai implementasi etika bisnis tersebut, Rukmana mengakui beberapa pelaku usaha memang sudah ada yang mampu menerapkan etika bisnis tersebut. Namun, karena pemahaman dari masing-masing pelaku usaha mengenai etika bisnis berbeda-beda selama ini, maka implementasinyapun berbeda pula, Keberadaan etika dan moral pada diri seseorang atau sekelompok orang sangat tergantung pada kualitas sistem kemasyarakatan yang melingkupinya. Walaupun seseorang atau sekelompok orang dapat mencoba mengendalikan kualitas etika dan moral mereka, tetapi sebagai sebuah variabel yang sangat rentan terhadap pengaruh kualitas sistem kemasyarakatan, kualitas etika dan moral seseorang atau sekelompok orang sewaktu-waktu dapat berubah. Baswir (2004) berpendapat bahwa pembicaraan mengenai etika dan moral bisnis sesungguhnya tidak terlalu relevan bagi Indonesia. Jangankan masalah etika dan moral, masalah tertib hukum pun masih belum banyak mendapat perhatian. Sebaliknya, justru sangat lumrah di negeri ini untuk menyimpulkan bahwa berbisnis sama artinya dengan menyiasati hukum. Akibatnya, para pebisnis di Indonesia tidak dapat lagi membedakan antara batas wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum. Wilayah etika dan moral adalah sebuah wilayah pertanggungjawaban pribadi. Sedangkan wilayah hukum adalah wilayah benar dan salah yang harus dipertanggungjawabkan di depan pengadilan. Akan tetapi memang itulah kesalahan kedua dalam memahami masalah etika dan moral di Indonesia. Pencampuradukan antara wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum seringkali menyebabkan kebanyakan orang Indonesia 5tidak bisa membedakan antara perbuatan yang semata-mata tidak sejalan dengan kaidah-kaidah etik dan moral, dengan perbuatan yang masuk kategori perbuatan melanggar hukum. Sebagai misal, sama sekali tidak dapat dibenarkan bila masalah korupsi masih didekati dari sudut etika dan moral. Karena masalah korupsi sudah jelas dasar hukumnya, maka masalah itu haruslah didekati secara hukum. Demikian halnya dengan masalah penggelapan pajak, pencemaran lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia. 4.Perkembangan dalam etika bisnis Perkembangan dalam etika bisnis dibagi menjadi 5 periode yaitu sebagai berikut : 1) Situasi Dahulu : Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur. 2) Masa Peralihan tahun 1960-an : ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility. 3) Etika Bisnis Lahir di AS tahun 1970-an : sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS. 4) Etika Bisnis Meluas ke Eropa tahun 1980-an : di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN). 5) Etika Bisnis menjadi Fenomena Global tahun 1990-an : tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo. 5.Etika Bisnis dari Akuntan Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik. Kita harus mengakui bahwa akuntansi adalah bisnis, dan tanggung jawab utama dari bisnis adalah memaksimalkan keuntungan atau nilai shareholder. Tetapi kalau hal ini dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka hasilnya sangat merugikan. Banyak orang yang menjalankan bisnis tetapi tetap berpandangan bahwa, bisnis tidak memerlukan etika.

BAB I PENDAHULUAN DAN ETIKA SEBAGAI TINJAUAN

BAB I PENDAHULUAN DAN ETIKA SEBAGAI TINJAUAN 1. Pengertian etika Dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, etika merupakan unsur penting yang harus selalu diperhatikan oleh para anggota masyarakat jika keberadaan atau eksistensi mereka ingin selalu diakui dan dihargai oleh anggota masyarakat yang lain. Kehidupan bermasyarakat mempunyai aturan main tertentu, baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yang dijadikan sebagai pedoman dalam bergaul atau berinteraksi. Etika merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan hidup manusia. Kemajuan peradaban dan budaya manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya etika. Karena tanpa etika, kehidupan macam apapun juga tidak akan berjalan dengan teratur. Sementara keteraturan itu sendiri sangat diperlukan sebagai syarat untuk berkembangnya ilmu dan pengetahuan manusia. Pengertian etika menurut para ahli ,Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain: 1.Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right) 2.Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions) 3.Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual) 4.Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban. 2.Prinsip-prinsip Etika Prinsip- prinsip perilaku professional tidak secara khusus dirumuskan oleh ikatan akuntan Indonesia tapi dianggap menjiwai kode perilaku akuntan Indonesia. Adapun prinsip- prisip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional, menurut Arens dan Lobbecke (1996 : 81) adalah : a. Tanggung jawab Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas mereka. b. Kepentingan Masyarakat Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada professional. c. Integritas Untuk mempertahankan dan menperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab professional dan integritas. d. Objektivitas dan indepedensi Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesioanal. Akuntan yang berpraktek sebagai akuntan public harusbersikap independen dalam kenyataan dan penampilan padawaktu melaksanakan audit dan jasa astestasi lainnya. e. Keseksamaan Akuntan harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan terbaik. f. Lingkup dan sifat jasa Dalam menjalankan praktek sebagai akuntan public, akuntan harus mematuhi prinsip- prinsip prilaku professional dalam menentukan liingkup dan sifat jasa yang diberikan. 3. BASIS TEORI ETIKA a. Etika Teleologi dari kata Yunani, telos = tujuan, Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Dua aliran etika teleologi : Egoisme Etis dan Utilitarianisme b. Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting. c. Teori Hak Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. d. Teori Keutamaan (Virtue) memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh keutamaan : a. Kebijaksanaan b. Keadilan c. Suka bekerja keras d. Hidup yang baik 4.Egoisme Egoism merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois". Lawan dari egoisme adalah altruisme. Hal ini berkaitan erat dengan narsisme, atau "mencintai diri sendiri," dan kecenderungan mungkin untuk berbicara atau menulis tentang diri sendiri dengan rasa sombong dan panjang lebar. Egoisme dapat hidup berdampingan dengan kepentingannya sendiri, bahkan pada saat penolakan orang lain. Sombong adalah sifat yang menggambarkan karakter seseorang yang bertindak untuk memperoleh nilai dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang ia memberikan kepada orang lain. Egoisme sering dilakukan dengan memanfaatkan altruisme, irasionalitasdan kebodohan orang lain, serta memanfaatkan kekuatan diri sendiri dan / atau kecerdikan untuk menipu.

Rabu, 13 Juni 2012

jokes

A middle-aged woman has a heart attack and is taken to the hospital. While on the operating table she has a near death experience. During that experience she sees God and asks if this is it. God says no and explains that she has another 30 years to live. Upon her recovery she decides to just stay in the hospital and have a face lift, liposuction, breast augmentation, tummy tuck, etc. She even has someone come in and change her hair color. She figures since she’s got another 30 years she might as well make the most of it. She walks out of the hospital after the last operation and is killed by an ambulance speeding by. She arrives in front of God and complains, “I thought you said I had another 30 years.” God replies, I didn’t recognize you.”

history soccer

The contemporary history of the world's favourite game spans more than 100 years. It all began in 1863 in England, when rugby football and association football branched off on their different courses and the Football Association in England was formed - becoming the sport's first governing body. Both codes stemmed from a common root and both have a long and intricately branched ancestral tree. A search down the centuries reveals at least half a dozen different games, varying to different degrees, and to which the historical development of football has been traced back. Whether this can be justified in some instances is disputable. Nevertheless, the fact remains that people have enjoyed kicking a ball about for thousands of years and there is absolutely no reason to consider it an aberration of the more 'natural' form of playing a ball with the hands. On the contrary, apart from the need to employ the legs and feet in tough tussles for the ball, often without any laws for protection, it was recognised right at the outset that the art of controlling the ball with the feet was not easy and, as such, required no small measure of skill. The very earliest form of the game for which there is scientific evidence was an exercise from a military manual dating back to the second and third centuries BC in China. This Han Dynasty forebear of football was called Tsu' Chu and it consisted of kicking a leather ball filled with feathers and hair through an opening, measuring only 30-40cm in width, into a small net fixed onto long bamboo canes. According to one variation of this exercise, the player was not permitted to aim at his target unimpeded, but had to use his feet, chest, back and shoulders while trying to withstand the attacks of his opponents. Use of the hands was not permitted. Another form of the game, also originating from the Far East, was the Japanese Kemari, which began some 500-600 years later and is still played today. This is a sport lacking the competitive element of Tsu' Chu with no struggle for possession involved. Standing in a circle, the players had to pass the ball to each other, in a relatively small space, trying not to let it touch the ground. The Greek 'Episkyros' - of which few concrete details survive - was much livelier, as was the Roman 'Harpastum'. The latter was played out with a smaller ball by two teams on a rectangular field marked by boundary lines and a centre line. The objective was to get the ball over the opposition's boundary lines and as players passed it between themselves, trickery was the order of the day. The game remained popular for 700-800 years, but, although the Romans took it to Britain with them, the use of feet was so small as to scarcely be of consequence.

great wall

The history of the Great Wall is said to start from the Spring and Autumn Periods when seven powerful states appeared at the same time. In order to defend themselves, they all built walls and stationed troops on the borders. At that time, the total length of the wall had already reached 3,107 miles, belonging to different states. In 221 BC, the Emperor Qin absorbed the other six states and set up the first unified kingdom in Chinese history. In order to strengthen his newly born authority and defend the Huns in the north, he ordered connecting the walls once built by the other states as well as adding some sections of his own. Thus was formed the long Qin's Great Wall which started from the east of today's Liaoning Province and ended at Lintao, Gansu Province. In the Western Han Dynasty, the Huns became more powerful. The Han court started to build more walls on a larger scale in order to consolidate the frontier. In the west, the wall along the Hexi corridor, Yumenguan Pass, and Yangguan Pass was built. In the north, Yanmenguan Pass and Niangziguan Pass in Shanxi were set up. Many more sections of the wall extended to Yinshan Mountain and half of the ancient Silk Road was along the Han's wall. The Northern Wei, Northern Qi and Northern Zhou Dynasties all built their own sections but on a smaller scale than the walls in the Han Dynasty. The powerful Tang Dynasty saw peace between the northern tribes and central China most of the time, so few Great Wall sections were built in this period

pyramid khufu

Khufu, son of Snefru and second ruler of the 4th dynasty moved the royal necropolis to Giza, north of modern-day Cairo. According to ancient Greek historian Herodotus, Khufu (aka Cheops) enslaved his people to build his pyramid. But archaeologists have since disproved his account. On the Giza Plateau, Khufu's builders oriented his pyramid almost perfectly north. The largest pyramid ever built, it incorporates about 2.3 million stone blocks, weighing an average of 2.5 to 15 tons each. It is estimated that the workers would have had to set a block every two and a half minutes. The pyramid has three burial chambers. The first is underground, carved into bedrock. The second, aboveground chamber was called the queen's chamber by early explorers. We now know it was never intended to house one of Khufu's wives but perhaps a sacred statue of the king himself. The third is the king's chamber, which held a red granite sarcophagus placed almost exactly at the center of the pyramid. The king's chamber is accessed via the 26-foot-high (8-meter-high) Grand Gallery, which was sealed off from thieves by sliding granite blocking systems. The Great Pyramid was the centerpiece of an elaborate complex, which included several small pyramids, five boat pits, a mortuary temple, a causeway, a valley temple, and many flat-roofed tombs for officials and some members of the royal family.

amazon river

The Amazon River is the second longest river in the world, and the largest in terms of the size of its watershed, the number of tributaries, and the volume of water discharged into the sea. No bridge crosses the river along its entire length. The Amazon and its tributaries flow through the countries of Peru, Bolivia, Venezuela, Colombia, Ecuador, and Brazil before emptying into the Atlantic Ocean 6, 437 kilometers (4,000 miles) from the Amazon's headwaters high in the Andes mountains of Peru. This huge watershed includes the largest tropical rainforest in the world as well as areas of dry grassland, or savannah. The rainforest's climate has heavy rainfalls and continuous high temperatures. These forests are so huge that scientists believe they actually help control the world's climate in important ways. Destruction of the forests as settlers clear the land for farming and companies harvest trees for lumber is believed to be contributing to the problem of global warming. The Amazon is home to a variety of Indian cultures who have a great deal of knowledge about the rich and complex rainforest environment. As settlement brings changes to the forest, these cultural groups are also changing, and the lessons they have gained through thousands of years of living within the rainforest are in danger of being lost. Scientists are trying to learn from the Amazon's native peoples about the amazing variety of rainforest plants and animals before they become extinct. Rainforest plants and animals may hold cures to diseases and provide information and materials valuable to people around the world.

what is it raining

Rain is formed from water vapour in the surrounding atmosphere. Water vapour forms when the heat of the sun evaporates water from oceans and other bodies of water on earth, including plants through transpiration. The warm and moist air cools down as it rises into the atmosphere. This reduces the amount of water vapour that the atmosphere can hold. The temperature at which air can hold the most amount of water vapour is called the Dew Point. When the temperature drops below the dew point, some of the water vapour condenses into water vapour, forming clouds. Water droplets form on tiny particles called condensation nuclei, which are made up of dust, salt from ocean spray and chemicals given off by industrial plants and vehicles. During the formation of water vapour, heat is liberated, warming the clouds. This allows the clouds to rise higher and eventually become cooler again. The formation of raindrops is explained by the coalescence theory and the ice-crystal theory.

john locke

John Locke is one of the founders of “liberal” political philosophy, the philosophy of individual rights and limited govern­ment. This is the philosophy on which the American Constitution and all Western political systems today are based. In the Second Treatise of Government, Locke’s most important political work, he uses natural law to ground his philosophy. But there are many different interpretations of the natural law, from the Ciceronian to the Thomistic to the Grotian. What is Locke’s interpretation? What version of natural law supports liberal politics? Some argue that this is a misguided question. They say that Locke’s political philosophy is not based on natural law at all, but instead on natural rights, like the philosophy of Thomas Hobbes. This is probably the greatest controversy in Locke interpretation today. Natural law theories hold that human beings are subject to a moral law. Morality is fundamentally about duty, the duty each individual has to abide by the natural law. Thomas Hobbes created a new approach when he based morality not on duty but on right, each individual’s right to preserve himself, to pursue his own good—essentially, to do as he wishes. Is Locke a follower of Hobbes, basing his theory on right rather than natural law? What difference does it make? One characteristic of a rights theory is that it takes man to be by nature a solitary and independent creature, as in Hobbes’s “state of nature.” In Hobbes’s state of nature, men are free and independent, having a right to pursue their own self-interest, and no duties to one another. The moral logic is something like this: nature has made individuals independent; nature has left each individual to fend for himself; nature must therefore have granted each person a right to fend for himself. This right is the fundamental moral fact, rather than any duty individuals have to a law or to each other. The priority of individual right reflects our separateness, our lack of moral ties to one another. According to Hobbes, one consequence of this is that the state of nature is a “war of all against all”: human beings are naturally at war with one another. Individuals create societies and governments to escape this condition. Society is not natural to man, but is the product of a “social contract,” a contract to which each separate individual must consent. The sole purpose of the contract is to safeguard the rights of each citizen. This is the basic recipe for the political philosophy of liberalism—Locke’s philosophy. Locke speaks of a state of nature where men are free, equal, and independent. He champions the social contract and govern­ment by consent. He goes even farther than Hobbes in arguing that govern­ment must respect the rights of individuals. It was Locke’s formula for limited govern­ment, more than Hobbes’s, that inspired the American Founding Fathers. But what is the basis of Locke’s theory? Is it natural law or Hobbesian natural right? The Founding Fathers, in the Declaration of Independence, speak of both natural rights and natural laws. Locke does likewise. Natural law and natural right may be combined, but if they are, one must take precedence over the other. Either the individual’s right, or his duty to moral law, must come first. What is Locke’s position? In Chapter Two of the Second Treatise of Government, he asserts that men in the state of nature are free and equal, and at liberty to do as they wish—but only “within the bounds of the law of nature.” This limitation separates Locke from Hobbes. Hobbes had argued that freedom and equality, and the priority of individual right, meant that individuals in the state of nature could pursue their survival and interest without limitation. They had no duty to respect the rights of others. This is why the state of nature was a state of war. Locke’s claim is that individuals have a duty to respect the rights of others, even in the state of nature. The source of this duty, he says, is natural law.[1] The difference with Hobbes is clearest in Locke’s argument about property. Hobbes and Locke agree that individuals have a right to property in the state of nature, but Hobbes denies that individuals have any duty to respect the property of others. This makes property more or less useless in Hobbes’s state of nature. Locke says individuals have a duty to respect the property (and lives and liberties) of others even in the state of nature, a duty he traces to natural law.[2] Natural law and natural rights coexist, but natural law is primary, commanding respect for the rights of others. Here, then, is the issue in the natural law–natural right dichotomy: if individual right is primary, can individuals have any duty to respect the rights of others? If the fundamental moral fact is the individual’s right to “look out for number one,” where would a duty to respect others come from? Hobbes finds no such duty, for it would restrict the individual’s liberty and his right.[3] Locke argues for a duty to respect others’ rights, but traces it to natural law, not right. Locke’s view is the view most of us share—I have rights, but “my right to swing my fist ends where your nose begins.” We typically think of individual rights as being coupled with a responsibility to respect the rights of others. Locke’s argument suggests that this responsibility depends upon duty and natural law, not individual right, as the basis of morality. Or does it? There is a potentially serious loophole in Locke’s argument. In Chapter Two of the Second Treatise, he says that the individual only has a duty to respect others’ rights when “his own preservation comes not in competition.” If my life is threatened, I need not respect anyone else’s rights, I may do whatever is necessary to preserve myself. How extensive is this loophole? If the state of nature is as violent and desperate as Hobbes said it was, with everyone under continual threat of death, Locke’s duty to respect the rights of others would essentially vanish. Some have argued that this is Locke’s true meaning. In the beginning of the Second Treatise, Locke seems to claim that the state of nature is a place of peace and harmony. Later, however, he makes it clear that the state of nature was actually very insecure, with people’s rights under continual threat. Conditions “drive” men to form a social contract for their protection.[4] If Locke’s state of nature is as violent as Hobbes’s, it could mean that Locke’s natural duty to respect others amounts to little or nothing, that the individual’s right to fend for himself is primary after all, and that Locke is much closer to Hobbes than he seems. He might want us to think, as some Locke scholars have argued, that he is a traditional natural law thinker, while conveying a secret, “esoteric” teaching based squarely on Hobbes’s individual right instead. This is the deepest controversy in Locke interpretation today, a controversy that is sometimes acrimonious. Even for those who see Locke as a kind of Hobbesian, though, it is generally agreed that Locke believes in some degree of natural duty to respect the rights of others. In this view, Locke’s argument is based on rights rather than law, but he understands the rights differently: perhaps rights imply reciprocity, or mutual respect among individuals, in a way that Hobbes failed to see. Similarly, for those who see Locke as a natural law thinker, there is controversy over the source of that law. Locke says, in the First Treatise of Government and elsewhere, that God is the source of the natural law. But God is much less in evidence in the Second Treatise. What is Locke’s view? Further, if Locke is serious about natural law, it is clear that his version of natural law is quite different from that of other natural law thinkers, such as Thomas Aquinas. Locke’s natural law sanctions the basic right of individuals to pursue their own self-interest—to accumulate wealth, for example. If Locke is a natural law thinker, his version of natural law is much more individualistic, much closer to Hobbes, than were previous versions. For contemporary Americans, one reason for studying Locke (together with Hobbes) is to understand the character of liberalism. A liberal system such as ours enshrines individual rights, but its health depends upon people exercising those rights responsibly. It depends on people taking seriously their duty to respect the rights of others. Many observers believe that, while Americans today are eager to claim their rights, too few are willing to shoulder the attendant responsibilities. Is a rights-based society doomed to degenerate into simple selfishness? Or is it possible to construct a rights philosophy with a robust element of responsibility built into it? Must such a philosophy place natural law above individual right? Must this law have a religious dimension? These are questions that should send us back to Hobbes, Locke, and the architects of the American Constitution.

Greek heroes

Achilles was the son of the mortal Peleus and the Nereid Thetis. He was the mightiest of the Greeks who fought in the Trojan War, and was the hero of Homer's Iliad. Achilles Thetis attempted unsuccessfully to make her son immortal. There are two versions of the story. In the earlier version, Thetis anointed the infant with ambrosia and then placed him upon a fire to burn away his mortal portions; she was interrupted by Peleus, whereupon she abandoned both father and son in a rage. Peleus placed the child in the care of the Centaur Chiron, who raised and educated the boy. In the later version, she held the young Achilles by the heel and dipped him in the river Styx; everything the sacred waters touched became invulnerable, but the heel remained dry and therefore unprotected. When Achilles was a boy, the seer Calchas prophesied that the city of Troy could not be taken without his help. Thetis knew that, if her son went to Troy, he would die an early death, so she sent him to the court of Lycomedes, in Scyros; there he was hidden, disguised as a young girl. During his stay he had an affair with Lycomedes' daughter, Deidameia, and she had a son, Pyrrhus (or Neoptolemus), by him. Achilles' disguise was finally penetrated by Odysseus, who placed arms and armor amidst a display of women's finery and seized upon Achilles when he was the only "maiden" to be fascinated by the swords and shields. Achilles then went willingly with Odysseus to Troy, leading a host of his father's Myrmidons and accompanied by his tutor Phoenix and his close friend Patroclus. At Troy, Achilles distinguished himself as an undefeatable warrior. Among his other exploits, he captured twenty-three towns in Trojan territory, including the town of Lyrnessos, where he took the woman Briseis as a war-prize. Later on Agamemnon, the leader of the Greeks, was forced by an oracle of Apollo to give up his own war-prize, the woman Chryseis, and took Briseis away from Achilles as compensation for his loss. This action sparked the central plot of the Iliad, for Achilles became enraged and refused to fight for the Greeks any further. The war went badly, and the Greeks offered handsome reparations to their greatest warrior; Achilles still refused to fight in person, but he agreed to allow his friend Patroclus to fight in his place, wearing his armor. The next day Patroclus was killed and stripped of the armor by the Trojan hero Hector, who mistook him for Achilles. Achilles was overwhelmed with grief for his friend and rage at Hector. His mother obtained magnificent new armor for him from Hephaestus, and he returned to the fighting and killed Hector. He desecrated the body, dragging it behind his chariot before the walls of Troy, and refused to allow it to receive funeral rites. When Priam, the king of Troy and Hector's father, came secretly into the Greek camp to plead for the body, Achilles finally relented; in one of the most moving scenes of the Iliad, he received Priam graciously and allowed him to take the body away. After the death of Hector, Achilles' days were numbered. He continued fighting heroically, killing many of the Trojans and their allies, including Memnon and the Amazon warrior Penthesilia. Finally Priam's son Paris (or Alexander), aided by Apollo, wounded Achilles in the heel with an arrow; Achilles died of the wound. After his death, it was decided to award Achilles' divinely-wrought armor to the bravest of the Greeks. Odysseus and Ajax competed for the prize, with each man making a speech explaining why he deserved the honor; Odysseus won, and Ajax then went mad and committed suicide. During his lifetime, Achilles is also said to have had a number of romantic episodes. He reportedly fell in love with Penthesilia, the Amazon maiden whom he killed in battle, and it is claimed that he married Medea.

bali island

Bali is a beautiful Island in Indonesia known as the “Island of the Thousand Temples” or the “Island of the Gods”, because of the great number of wonderful Hindu temples there are in the Island. It says that Bali has more temples than houses. Each village of Bali has several temples. Besides, each home in the Island has its own small temple. All Bali temples have a special orientation from the mountains and the sea. Usually the temples of Bali are ornamented with an impressive and intricate set of carvings, mainly on the gateways. Besides, almost always a couple of magnificent stone statues are always saving the temples. According to the Balinese tradition, the temples are the point of meeting amongst the humans and the gods. The temples are specially considered during some festival days or in the “odalan” (temple anniversaries). In these dates the temples are decorated to praise the gods. The word in Sanskrit for temple is “Pura”, which means “space surrounded by walls”. In Bali each thing or activity has its own temple, there are village temples, family temples, rice fields temples, temples for animals, etc. Nevertheless the bigger Hindu temples on Bali are used only in special occasions. Most temples of Bali can be classified into these categories: Pura Puseh (origin temples), which are the most important and are reserved to the founders of villages (Balinese are worshipers of their ancestors). Pura Desa dedicated to protector spirits that guard the villagers. Pura Dalem (dead temple), where is venerate Durga the Shiva’s wife and deity of the dark and destruction. Besides, there are several temples dedicated to the spirits that protect the agriculture, these temples are known as Pura Subak However, there are around 50 largest temples and only some of them are considered the most important of Bali, amongst them are: • Pura Tanah Lot, it is an impressive temple near the village of Beraban to 13 Km of Tabanan. The temple is suspended on a huge black volcanic rock in middle of the sea. The temple has only one tower and it is decorated by foliage spilling over the cliffs. The image of this temple remembers a beautiful Japanese bonsai. Tanah Lot like most sea temples of Bali is dedicated to the guardian spirits of the sea. According to the chronicles this wonderful temple was constructed by the priest Nirartha in the XIV century. It can walk to the temple only when the tide is low. This temple is opened only to Hindus and is closed for tourists. • Pura Besakih, it is the most important and holiest temple of Bali. It was originally dedicated to the god Gunung Agun (the mountain) since pre historical times. Currently the temple is a religious complex composed by around thirty sanctuaries; most of them were constructed between XIV and XVII centuries. An important feature of the temple is the great number of Merus (wooden buildings with pagodas as roofs). This temple was also a center of political power, between I and V centuries, the temple was the palace of the Geigel- Kiungkung dynasty. Now this temple is considered the “Mother Temple” of Bali and is very respected by all Bali citizens. The paramount sanctuary of the temple is the Pura Panataran Agung. The main inside patio hosts the Trisakti shrine, which is dedicated to the Hindu trinity of Brahma, Visnu and Siwa , which is very honored during the festivals that is also the most amazing time to visit the temple . • Pura Kehen, it is located at the south slope of Bangli hill, is one of the oldest temples of Bali. The temple saves some ancient manuscripts made on bronze. This sanctuary is the second largest temple of Bali. There are three patios in the temple, which are decorated with statues, wonderful carvings and are connected by stairs. Pura Kehen was founded in the XI century by Cri Brahma Kenuti Ketu. One of the most representative elements of the temple is old Banyan tree that is in the second courtyard. • Pura Ulun Danu Batur, it is located in the Batur village in the Kintamani district. It is the second most important temple of Bali after Pura Besakih. The temple is situated in a beautiful location at the Batur Lake at the foot of the Gunung Batur Volcano. The religious complex is composed by nine sanctuaries dedicated to Hindu gods like the goddess of the Batur lake, Dewei Danu or the God of the mountain Batu. The original temple was built in the XI century; unfortunately it was destroyed by a volcanic eruption in 1926. The current temple was reconstructed by the local people and has a notorious Chinese influence in its architectonic style. • Pura Uluwatu, it is another wonderful temple that combines perfectly the human art with the beauty of the nature. It is located at the western of the Bukit Peninsula. The temple is constructed at the top of a cliff 90 meters over the sea. There are not accurate registers about the age of this temple, but it is one of the most ancient of Bali. Pura Uluwatu like Tanah Lot is dedicated to the sea deities. The access to the temple is only allowed one at a time. Pura Ulawatu has three inner courts which are surrounded by coral stone. Besides, both the front and the inside halls are ornamented with stylized birds. There are many other temples in Bali such as Lempuyang, Goa Lawah, Makori, Watukaru, Jagadnahata, Maospahit, Tirta Empul, Pengerebogan, Andakasa, Masceti, Sakenan, Dalem, Ubud's Pura Taman Saraswati,etc. All of them are great architectural gems and each one has something unique to offer. Therefore the countless and amazing temples of Bali are considered all together, one of the great man-made wonders.

President soekarno

Soekarno (was born in Blitar, East Java, on June 6 1901 – died in Jakarta, on June 21 1970 in the age 69 years) was Indonesian President first that hold the office of in the period 1945 - 1966. He played the role important to liberate the Indonesian nation from the Dutch colonisation. He was the Kepancasilaan excavator. He was the Proclaimer of Indonesian Independence (was with Mohammad Hatta) that happened on August 17 1945. He published the Letter Of Instruction on March 11 1966 Supersemar that was controversial that, that it seems, including his contents was assigned Lieutenant General Soeharto to pacify and maintain his authority. But this Supersemar was misused by Lieutenant General Soeharto to undermine his authority with the road to accuse him of taking part in masterminding the Movement on September 30. The charges caused People's Consultative Assembly Sementara that his member was replaced with the person who for Soeharto, shifted the presidency to Soeharto. Soekarno was born by the name of Kusno Sosrodihardjo. His father was named Raden Soekemi Sosrodihardjo, a teacher in Surabaya, Java. His mother named Ida Ayu Nyoman Rai came from Buleleng, Bali . When small Soekarno lived with his grandfather in Tulungagung, East Java. In the age 14 years, a friend of his father who was named Oemar Said Tjokroaminoto asked Soekarno to live in Surabaya and to be sent to school to Hoogere Burger School (H.B.S.) there while reciting the Koran in the Tjokroaminoto place. In Surabaya, Soekarno often met the leaders of the Islam union, the organisation that was led by Tjokroaminoto at that time. Soekarno afterwards gathered with the Jong Java organisation (the Javanese Young Man). Graduate from H.B.S. in 1920, Soekarno continued to Technische Hoge School (now ITB) in Bandung, and was finished during 1925. During in Bandung, Soekarno interacted with Tjipto Mangunkusumo and Dr. Douwes Dekker, that at that time were the leader of the National Indische Partij organisation

tugas

1.While she was trying to read, her friend was practicing the piano. 2.He bought several jerseys in the last two years. 3She will bone the meat later. 4.By the time you get there they already left. 5.I was drowning. Nobody save me. 6.He said she has not returned the book yet 7.What do you darn at the moment ? 8.She thought her husband will buy a new fridge. 9.How much have you spent in London so far? 10.In a month’s time I learned mord words than ever 11.After he had seen the giraffe he spoke to the keeper. 12.He had bought weed-killer when they arrested him. 13.The plumbing always give trouble during the summer. 14.The trout had risen when they reached the lake. 15.Do you recognize this statue ? 16.They say they will not perform tomorrow. 17.What you have been doing since your last recital ? 18.As it was rain he put up his umbrella. 19.They had heard Beethoven better conducted earlier in the year. 20.What is going on here ? 21.I only just realized what she meant. 22.I never planted crocuses again. 23.Had you enjoyed yourself when I saw you at the party ? 24.I went to the zoo and I go while they are still talking about visiting it. 25.She docked at Tilbury last week. 26.He always accelerate too quickly. 27.Do you hear that awful noise ? 28.By the time the brigade arrived, the house had collapse. 29.I saw a new type of windscreen wiper while I walked round the exhibition yesterday. 30.They have been waiting to take off since ten this morning. 31.She shot at least three tigers in India last year. 32.We saw what we see. 33.He heard an owl hooting as he walking through the wood. 34.They have been producing a hundred shirts everyday for two months now. 35.Where were you going when I bumped into you ? 36.Who was told the grasshopper to dance ? The ant in the fable. 37.They wears high heels everyday last term. 38.What will you do with a gun in your car ? 39.He still not found his watch. 40.I left there several years before I found the nest. 41.When it stung him ? 42.She likes cockles. Naturally she prefers lobster. 43.Dragon-flies have very beautiful wings. 44.Time and tide don’t wait for no man, the saying run. 45.I bought some new pruners the other day. 46.The girl in the pay box seldom smiles nowadays. 47.The moment he had opened the boot the spare wheel fell out. 48.Too many cooks spoiled the broth. 49.He was leave Italy by plane yesterday.

Rabu, 11 April 2012

tulisan bahasa inggris bisnis 2

fixed cost

Definition

A periodic cost that remains more or less unchanged irrespective of the output level or sales revenue, such as depreciation, insurance, interest, rent, salaries, and wages.

While in practice, all costs vary over time and no cost is a purely fixed cost, the concept of fixed costs is necessary in short term cost accounting. Organizations with high fixed costs are significantly different from those with high variable costs. This difference affects the financial structure of the organization as well as its pricing and profits. The breakeven point in such organizations (in comparison with high variable cost organizations) is typically at a much higher level of output, and their marginal profit (rate of contribution) is also much higher.

tulisan bahasa inggris bisnis 2

letter of credit (L/C)

Definition

A written commitment to pay, by a buyer's or importer's bank (called the issuing bank) to the seller's or exporter's bank (called the accepting bank, negotiating bank, or paying bank).

A letter of credit guarantees payment of a specified sum in a specified currency, provided the seller meets precisely-defined conditions and submits the prescribed documents within a fixed timeframe. These documents almost always include a clean bill of lading or air waybill, commercial invoice, and certificate of origin. To establish a letter of credit in favor of the seller or exporter (called the beneficiary) the buyer (called the applicant or account party) either pays the specified sum (plus service charges) up front to the issuing bank, or negotiates credit. Letters of credit are formal trade instruments and are used usually where the seller is unwilling to extend credit to the buyer. In effect, a letter of credit substitutes the creditworthiness of a bank for the creditworthiness of the buyer. Thus, the international banking system acts as an intermediary between far flung exporters and importers. However, the banking system does not take on any responsibility for the quality of goods, genuineness of documents, or any other provision in the contract of sale. Since the unambiguity of the terminology used in writing a letter of credit is of vital importance, the International Chamber Of Commerce (ICC) has suggested specific terms (called Incoterms) that are now almost universally accepted and used. Unlike a bill of exchange, a letter of credit is a nonnegotiable instrument but may be transferable with the consent of the applicant. Although letters of credit come in numerous types, the two most basic ones are (1) Revocable-credit letter of credit and (2) Irrevocable-credit letter of credit, which comes in two versions (a) Confirmed irrevocable letter of credit and (b) Not-confirmed irrevocable letter of credit.

tulisan bahasa inggris bisnis 2

payment terms

Definition
The conditions under which a seller will complete a sale. Typically, these terms specify the period allowed to a buyer to pay off the amount due, and may demand cash in advance, cash on delivery, a deferred payment period of 30 days or more, or other similar provisions.

tulisan bahasa inggris bisnis 2

Accounting is the analysis and interpretation of book-keeping records. It includes not only the maintenance of accounting records but also the preparation of financial and economic information which involves the measurement of transactions and other events relating to the entity.

Accounting is defined as "the art of recording, classifying and summarizing in terms of money transactions and events of financial character and interpreting the results thereof."

In simple words we can say that-

accounting is an art.......
of recording, classifying and summarizing.........
in terms of money......
transactions and events of financial nature and
interpreting the results thereof.

Accounting is an art of correctly the day to day business transactions. It is a science of keeping the business records in a regular and most systematic manner so as to know the business results with minimum trouble. Therefore, it is said to be statistical procedure for the collection, classification and summarization of financial information.

"Accounting is a means of collecting, summarizing, analyzing and reporting in monetary terms, information about the business."

Now a days accounting is regarded as a "service activity". In 1970 the Accounting Principles Board of the American Institute of Certified Public Accountants enumerated that, "The function of accounting is to provide quantitative information, primarily of financial nature, about economic entities that is needed to be useful in making economic decisions."

tulisan bahasa inggris bisnis 2

Here are the rules for when to use "A, An or The":

a = indefinite article (not a specific object, one of a number of the same objects) with consonants
She has a dog.
I work in a factory.
an = indefinite article (not a specific object, one of a number of the same objects) with vowels (a,e,i,o,u)
Can I have an apple?
She is an English teacher.
the = definite article (a specific object that both the person speaking and the listener know)
The car over there is fast.
The teacher is very good, isn't he?
The first time you speak of something use "a or an", the next time you repeat that object use "the".
I live in a house. The house is quite old and has four bedrooms.
I ate in a Chinese restaurant. The restaurant was very


Indefinite Articles: a and an

"A" and "an" signal that the noun modified is indefinite, referring to any member of a group. For example:

"My daughter really wants a dog for Christmas." This refers to any dog. We don't know which dog because we haven't found the dog yet.


Definite Article: the

The definite article is used before singular and plural nouns when the noun is specific or particular. The signals that the noun is definite, that it refers to a particular member of a group. For example:

"The dog that bit me ran away." Here, we're talking about a specific dog, the dog that bit me.

"I was happy to see the policeman who saved my cat!" Here, we're talking about a particular policeman. Even if we don't know the policeman's name, it's still a particular policeman because it is the one who saved the cat.

tugas bahasa inggris bisnis 2

Exercise 10: Subject-Verb Agreement

1.John, along with twenty friends, are planning a party.
2.The picture of the soldiers bring back many memories.
3.The quality of these recordings are not very good.
4.If the duties of these officers aren’t reduced, there will not be enough time to finish the project.
5.The effects of cigrette smoking have been proven to be extremely harmful.
6.The use of credit cards in place of cash have increased rapidly in recent years.
7.Advertisements on television are becoming more competitive than ever before.
8.Living expenses in this country, as well as in many others, is at an all-time high.
9.Mr. Jones, accompanied by several members of the committee, has proposed some changes of the rules.
10.The levels of intoxication vary from subject to subject.

Exercise 11: Subject-Verb Agreement

1.Neither Bill nor Mary are going to the play tonight.
2.Anything are better than going to another movie tonight.
3.Skating is becoming more popular every day.
4.A number of reporters were at the conference yesterday.
5.Everybody who has a fever must go home immediately.
6.Your glasses were on the bureau last night.
7.There were some people at the meeting last night.
8.The committee has already reached a decision.
9.A pair of jeans were in the washing mechine this morning.
10.Each student have answered the first three questions.
11.Either John or his wife makes breakfast each morning.
12After she had perused the material, the secretary decided that every-thing were in order.
13.The crowd at the basketball game was wild with excitement.
14.A pack of wild dogs has frightened all the ducks away.
15.The jury is trying to reach a decision.
16.The army has eliminated this section of the training test.
17.The number of students who have withdrawn from class this quarter are appalling.
18.There have been too many interruptions in this class.
19.Every elementary school teacher has to take this examination.
20.Neither Jill nor her parents have seen this movie before.

Tinggalkan sebuah Komentar
Bahasa Inggris Bisnis 2 (Articles)
Filed under: Uncategorized — iwamt92 @ 10:44 am
Exercise 4: Articles

1.Jason’s father bought him a bicycle that he had wanted for his birthday.
2.Statue of Liberty was a gift of friendship from France to United States.
3.Rita is studying English and math this semester.
4.A Judge asked the witness to tell the truth.
5.Please give me a cup of coffe with cream and sugar.
6.A Give books on the table for my history class.
7.No one in the Spanish class knew correct the answer to Mrs. Perez’s question.
8.My car is four years old and it still runs well.
9.When you go to the store, please buy a bottle of chocholate milk and a dozen oranges.
10.There are only a few seats left for tonight’s musical at the university.
11.John and Marcy went to school yesterday and then studied in the library before returning home.
12.Lake Erie is one of the five Great Lakes in North America.
13.On our trip to Spain, we crossed the Atlantic Ocean.
14.Mount Rushmore is the site of the magnificent tribute to the four great American presidents.
15.What did you eat for breakfast this morning?
16.Louie played basketball and baseball at the Boys’ Club this year.
17.Rita plays a violin and her sister plays a guitar.
18.While we were in Alaska, we saw the Eskimo village.
19.3Phil can’t go to the movies tonight because he has to write an essay.
20.David attended Princenton University.
21.Harry has been admitted to the School of Medicine at midwestern university.
22.Mel’s grandmother is in hospital, so we went to visit her last night.
23.The Political science class is taking trip to Soviet Union in the spring.
24.Queen Elizabeth II is a monarch of the Great Britain.
25.The Declaration of Independence was drawn up in 1776.
26.Scientists hope to send an expendition to Mars during 1980s.
27.Last night there was bird singing outside my house.
28.The chair that you are sitting in is broken.
29.The Civil War was fought in United States between 1861 and 1865.
30.Florida State University is smaller than University of Florida.